Selasa, 01 Maret 2016

MAJULAH PETANIKU, JAYALAH INDONESIAKU !

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi taman”. Itulah sepotong bait karya anak bangsa yang menunjukan kejayaan pertanian indonesia masa dulu. Masa-masa saat negara kita dengan bangga swasembada pangan.
Indonesia merupakan negara besar dengan segala sumberdaya alam yang melimpah dan tanah yang subur. Kekayaan alam yang demikian sangat memungkinkan indonesia menjadi negara agararis yang maju. Didukung oleh keadaan geografis indonesia yang beraneka ragam juga memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis komoditas tanaman. Mulai dari tanaman makanan pokok, sayur mayur hingga buah-buahan.
Bak permata yang hilang, anugerah yang demikian besarnya belum mampu dimanfaatkan secara maksimal, hal ini terbukti dengan masih banyaknya impor bahan makanan yang kita lakukan. Menurut data dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia  bahwa “setiap tahun kita mengimpor lebih dari 5 juta ton gandum senilai kurang lebih Rp. 15 triliun”. Selain itu menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), “di bulan Agustus saja, Indonesia sudah mengimpor beras hingga 35.818 ton dengan nilai US$ 19,132 juta. Jika diakumulasikan dari bulan Januari hingga Agustus 2013, banyaknya beras yang masuk ke Indonesia dari 5 negara tersebut tercatat sedikitnya 302.707 ton beras dengan nilai US$ 156,332 juta” ( Kusuma, 4 oktober 2013).
Tidak hanya beras, lebih parah lagi sayur dan buah yang beredaran laku di pasaran adalah buah dan sayur impor Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor sayur dari China mencapai nilai US$ 317,17 juta dengan berat 377,48 kilogram (kg). Myanmar dan Australia dengan nilai impor masing-masing US$ 43,48 juta serta US$ 21,31 juta. Lalu nilai impor India dan Kanada yang memasok sayur bagi Indonesia mencapai masing-masing US$ 17,54 juta dan US$ 12,84 juta. Sedangkan negara lainnya mengimpor sayur bernilai US$ 56,88 juta, sehingga secara total nilai impor sayur sepanjang Januari-Agustus 2013 sebesar US$ 469,22 juta (Ariyanti: 14 oktober 2013). Dengan keadaan impor yang demikian masih pantaskah indonesia disebut sebagai negara agraris?
Jika melihat realita di atas mungkin terlintas di benak kita bahwa indonesia tidak lagi cocok disebut sebagai negara agraris. Namun jika kita melirik ke daerah pedesaan yang disana  masih banyak tinggal para petani yang berjuang untuk menyediakan nasi, nampaknya pandangan itu bisa agak hilang.
 Ada banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pertanian di indonesia. Pertama adalah masalah yang berakar dari sumberdaya manusia pertanian baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara  kuantitas misalnya banyak orang yang tidak tertarik kepada pertanian, karena menganggap pekerjaan petani adalah pekerjaan yang rendah, resikonya tinggi, dan hasilnya tidak menentu. Bahkan ada paradigma baru bahwa bekerja di kota sebagai kuli hasilnya lebih bisa dirasakan daripada menetap di desa menjadi petani. Akibatnya sebagian besar profesi sebagai petani dijalankan secara turun temurun dari satu generasi ke genarasi selanjutnya, yang akhirnya berdampak pada kualitas seumberdaya pertanian yang kurang paham terhadap ilmu pertanian.
Dari masalah kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia ternyata menjadi sporadis bagi masalah-masalah yang selanjutnya. Masalah kedua adalah kualitas produk pertanian. Hal itu dikarenakan pengetahuan petani yang rendah, dan kebanyakan petani selalu mengikuti tren tanaman yang paling mahal harganya tanpa melakukan perhitungan yang pasti. Misalnya saat ini harga cabai sedang naik, maka bondong-bondong pentani menanam cabai dengan cara penanaman yang ikut-ikutan. Akibatnya kualitas hasil pertanian mereka kurang maksimal.
Masalah yang ketiga adalah pihak pemerintahan yaitu dinas pertanian yang belum bisa mengakomodir kebutuhan petani. Kebutuhan petani bukan hanya pada pupuk dan benih saja, namun petani juga butuh pengalaman, pengetahuan dan cara-cara baru untuk  bertani. Sebenarnya pemerintah melalui kantor pertanian yang ada di kecamatan telah melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada petani baik cara mencangkul, cara menam benih, dan penggunaan pupuk. Namun yang sangat disayangkan adalah rendahnya minat masyarakat terhadap kegiatan itu. Buktinya setiap ada kegiatan penyuluhan yang datang adalah petani-petani yang usianya sudah tua. Kondisi peserta yang sudah tua tentu memiliki berbagai macam keterbatasan. Diantaranya adalah keterbatasan IQ, sehingga walaupun diajari berbagi macam pembaruan cara, peserta akan sungkan untuk melakukan pembaruan.
Keadaan yang demikian harus segera dibenahi oleh semua pihak, agar masalah yang ada tidak berlanjut, dan kondisi pertanian lebih baik lagi. Untuk itu perlu adanya sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasinya. Langkah yang dapat ditempuh adalah: pertama adalah dengan membuat generasi muda berminat dengan sektor pertanian. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan membuat kompetisi bertani untuk pemuda yang diselenggarakan oleh masyarakat bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan fakultas pertanian. Kompetisi ini bebas diikuti oleh seluruh pemuda yang ada di suatu wilayah kabupaten atau kota tertentu. Dari kompetisi itu selanjutnya dipilih 2 orang duta pertanian. Duta pertanian ini selanjutnya berkewajiban untuk memajukan pertanian yang ada di daerahnya.
Kedua untuk membenahi ketrampilan dan pengetahuan para petani turunan, dapat melalui workshop pertanian yang dapat diselenggarakan oleh dinas pertanian bekerjasama dengan fakultas pertanian.
Ketiga, untuk memperbaiki kualitas hasil pertanian bisa dibentuk pemuda pelopor pertanian yang anggotanya dapat di ambil dari peserta kompetisi, mahasiswa fakultas pertanian, serta pemuda lain yang peduli dengan pertanian. Kegiatan yang dilakukan oleh pemuda pelopor pertanian ini berupa pendampingan dan pengontrolan terhadap petani dalam menanam tanaman.

Dengan demikian untuk mengatasi masalah pertanian perlu adanya sinergi dari berbagai pihak dalam menanggulangi masalah pertanian, mulai dari malibatkan pemuda sebagai calon penerus estafet pertanian, petani yang ada sekarang dan pemerintah melalui Dinas Pertanian .

Black and white

Baik dan  jahat, adalah sebuah ungkapan yang seperti membandingkan antara 2 warna yaitu hitam dan putih. Hitam terlihat keras, tajam, menyeramkan dan terkadang terdenar kotor. Sementara putih, ia terlihat lembut, bersih jujur, dan menawan. Kenapa bisa jadi demikian? Ya ini hnaylah pandangan dari orang yang sedikit menggunakan otak saja.
Lalu, baaimana dengan kata baik dan buruk? Ya mereka sama saja. Baik dan buruk tetap berada di posisi mereka dengan tempat mereka masing – masing. Ada di surga dan ada di neraka. Suatu saat orang di sebut baik, hanya karena orang itu tidak mementingkan perasaan, tempat, kepentingan dan posisinya. Dan sanat heran , selalu saja seperti itu. Orang baik adalah orang yan melakukan itu, sementara disisi lain orang jahat adalah orang yang mementingkan perasaan, kepentingan, tempat dan posisinya. Padahal tak selamanya kepentingan orang banyak itu lebih baik dan lebih berguna dari pada kepentingan pribadi yang di abaikan.
Banyak selama ini kita tahu, orang yan baik, ramah masih hidup di ambang batas wajar jika dibandingkan dengan orang yang tidak baik. Alalu apakah orang  yang hidupnya belum baik tersebut  bukan benar-benar orant yang baik? Ya dan tidak. Ya kaena mungkin dia mementingkan rasa baiknya kepada orang lain, sementara pada diri sendiri dia tidak baik.dan tidakkarena dimata oran lain mereka adalah orang yang baik.
Kapan sejatinya kebaikan digunakan? Memang ada kalanya kita bimbang dan resah terhadap diri kita antara memilih untuk baik atau jahat dengan sesuatu hal. Namun perlu diingat bahwa semua yang kelihatanya putih bersih baik, belum tentu jika dilakukan akan menjadi seperti yang diharapkan, namun sebalikanya sesuatu yang kelihatanya kejam, keras, bengis, bahkan kotror, ternyata adalah seuatu yan jika dilakukan adalah baik. Sering kita karena rasa kasihan, kita mengabaikan ketegasan. Dan itu adalah hal yang sangat buruk. Rasa melas kasihan yang sebenarnya ditimbulkan olehnya, bukan oleh kita, dan merupakan kelemahanya, menjadi great bariet reef bagi ketegasan dalam menegakan kebaikan. Sementara terkadang karena sejak awal pernah kita nenjust sesuatu, namun selanjutnya kita  tertutup hati dan pikiran untuk melihat kebaikan dari sebuah tindakan.
Sulit memang, untuk menggunakan pikiran dan hati dengan jernih, namun apa daya itu harus digunakan agar kita terhindar datri berbuat jahat dan baik di waktu yang tidak tepat. Semoga kita selalu dekat dengan lindungan dan karunia – Nya.

AAMIIN 

Kehidupan sosial di negeri bersosial

Sebagai negara kepulauan, indonesia memiliki wilayah yang luas, terpisah dan tentunnya indah. Indonesia terdiri atas berbagai macam suku bangsa dengan beraneka ragam budaya yang sangat memikat. Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budaya nenek moyang yang selalu menerapkan budaya ketimuran yang terkenal dengan sopan santun, gotong royong serta saling menghormati.
Adannya berbagai macam suku dan buaya di indonesia, tidak membuat bangsa indonesia menjadi terpecah belah. Namun hal tersebut menjadikan sebuah prinsip bagi bangsa indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika”, sehingga mereka mampu bersatu dan hidup berdampingan dengan aman, tentram dan sejahtera. Dengan prinsip hidup bangsa indonesia yang demikian, tentunnya mengakibatkan bangsa indinesia memiliki ikatan sosial yang begitu kuat. Hal tersebut terwujud dalam kehidupan mereka sehari hari dalam lingkungan sosial bangsa.
Namun seiring berjalannya waktu, nilai kehidupan sosial bangsa indonesia semakin luntur, hal ini disebabkan oleh arus globalisasi yang mengakibatkan seseoarang sibuk dengan pekerjaannya, dan tidak pedui lagi dengan lingkungan sosialnnya. XX perbedaan kebutuhan, tujuan, dan pekerjaan, membuat seseorang sibuk sendiri dengan urusan mereka. Hal tersebut mengakibatkan maraknnya persaingan yang muncul dalam kehidupan. Mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar.
Maraknnya persaingan yang muncul berkaitan erat dengan kelangsungan hidup seseorang. siapa yang kuat akan bertahan  dan menang, sementara yang lemah cenderung mengalah dan akhirnnya kalah. Persaingan yang terjadi seolah merupakan persaingan untuk menduduki status sosial yang tinggi, sehingga seseorang disegani dan dihormati. Keinginan manusia untuk menjadi yang lebih dari yang lain, dan tidak selalu puas dengan kebutuhan mulai muncul dan menjadi magnet bagi persaingan.
Dengan maraknnya persaigan menyebabkan lunturnnya nilai – nilai sosial dalam lingkungan sosial mulai telihat. Tetangga yang tadinya jika bertemu masih sempat bertegur sapa, namun karena kesibukan urusan masing – masing mereka menjadi tak bertegur sapa lagi. Lebih parahnya lagi kelunturan nilai – nilai sosial tidak hannya terjadi di lingkungan perkotaan saja, namun sudah mulai merambah ke desa – desa. Hal ini dapat dilihat dari perilaku muda mudi yang berjalan melewati depan orang yang lebih tua, jarang sekali dari mereka yang mengucapkan permisi, bahkan mereka bertingkah seolah tak melihatnnya.
Lunturnnya nlai nilai sosial dalam lingkungan sosial bermasyarakat, dikhawatirkan akan menyebabkan munculnya masyarakat patologis. Jika hal tersebut terjadi maka dikhawatirkan akan terjadi perpecahan bangsa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk memupuk kembali nilai – nilai sosial dalam kehidupan sosial masyarakat yang mulai luntur. Sehiongga nilai sosial dan rasa persatuan bangsa tidak akan terancam walaupun dalam arus globalisasi . persaingan yang terjadi antar individu akan menjadi persaingan yang indah dimat siapapun yang memandangnnya. Persaingan yang dibarengi dengan rasa hormat, kasih sayang dan kepekaan yang tinggi.

Banyak cara yang dapatdilakukan untuk memupuk nilai – nilai sosial agar tidak luntur dalam kehidupan sosial. Diantarannya adalah dengan menyempatkan menyapa sesibuk apapun kita, mendidik anak- anak dan mengajari mereka sopan santun, setta meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga dan lingkungan sekitar. Dengan demikian diharapkan kehidupan sosial dalam lingkungan sosial akan menjadi harmonis.

Kepribadian

Kepribadian merupakan sesuatu yang khas yang dimiliki oleh setiap orang. Ada yang baik ada yang buruk, tegantung dari kacamata yang digunakan untuk melihatnya.
Kepribadian seseorang tidak tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, namun dibentuk oleh seseorang bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik. Kepribadian juga dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan sehari – hari. Terlepas dari itu semua, kepribadian juga dapat dicirikan oleh penampilan.
Tak dapat dipungkiri, penampilan seseorang  cenderung menampilkan sisi kepribadiannya. Bagaimana tidak. Misalnya saja orang yang suka akan hal – hal yang rapi tentu akan berpenampilan rapi juga. Sementra orang yang jorok dan kurang suka kerapian tentu saja penampilannya berbeda dengan orang yang suka kerapian,
Lalu bagaimana dengan orang yang penampilannya tidak tentu? Ada beberapa kemungkinan mengenai orang tersebut. Pertama mungkin orang itu kepribadiannya belum tertata, dalam artian masih dalam proses pencarian dan penemuan. Kedua, orang itu adalah orang yang fleksibel, biasanya orang ini kepribadiaannya sesuai dengan pakaian yang dikenakan. Ketiga orang itu memiliki banyak koleksi pakaian.
Selain penampilan,hal yang menunjukan kepribadian seseorang adalah perkataan. ada beberapa tipe omongan atau bentuk perkataan orang, diantaranya adalah: pertama orang yang bicarannya halus, orang ini cenderung lebih suka dengan hal – hal yang halus dan tidak suka dengan hal – hal yang sedikit banyak kasar. Kedua, orang yang bicarannya keras, orang tipe ini biasannya memiliki kepibadian yang disiplin dan tegas.
Ketiga orang yang bicarannya menggelikan, orang tipe ini biasannya disukai, karena unik dan lucu.keempat orang yang bicarannya pelan dan tidak jelas, orang ini biasnya suka ragu – ragu, dan cenderung banyak menimbang dalam pengambilan keputusan.
Selain gaya penampilan dan bicara Tertawa juga menunjukkan kepribadian orang. Ada orang yang tertawa dengan  los, orang ini menganggap dunia seperti duniannya sendiri, orang tipe ini, biasannya memiliki kepribadian  yang terbuka, dan leih gampang diajak tertawa. Sementara orang yang  ketawannya terkesan ditahan, biasannya orang ini  adalah orang pemalu, dan juga cenderung menjaga image dari dirinnya.
Gaya berJalan juga dapat menunjukkan kepribadiannya. Ada irang yang gaya berjalannya cepat dan terkesan seperti orang tefesa – gesa, orang seperti ini biasannya menginginkan segala pekerjaan yang ada didepannya segera selesai. Hal ini berbeda dengan orang yang terbiasa jalan dengan pelan dan terkesan seperti siput, orang tipe ini biasannya orangya sangat santai, pemalas dan  sering terlambat.
                Selain itu gaya berdandan juga dapat menunjukkan kepribadiannya. Orang yang tak terbisa dandan, orang ini memiliki sifat apa adannya, dan cenderung tidak peduli dengan penampilannya.
Sementara orang yang suka dandan menor, itu biasannya mencirikan orang yang suka dengan sesuatu yang elegan / glamour. Orang tipe ini cenderung memiliki sifat boros, cenderung tidak memperhatikan vbagaimana keadaannya. Mau baaimanapun yang dipikirkan adalah penampilannya.

Deminikan jenis, dan sifat orang yang dapat diamati daru liuarnnya, namun kita tetap tidak boleh melihat orang dari lluarannya saja. Karena hal tersebut hannyalah  penmgamatan semata.

KONTRIBUSI LINGKUNGAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

Salah satu cita-cita mulia dari bangsa ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan bangsa yang cerdas diharapkan mampu menompang dan mempercepat pembangunan nasional yang nantinnya dapat bermuara kepada kesejahteraan nasional. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai cita-cita itu. Diantara upaya yang paling praktis adalah dengan menyelenggarakan pendidikan.
Penyelenggaraan pendidikan sebagai salah satu upaya mencerdasakan kehidupan bangsa, tentunya tidak serta merta dapat berdiri sendiri, namun butuh dukungan dari berbagai pihak. Dukungan yang dirasa paling berpengaruh terhadap keberhasilan penyelenggaraan pendidikan diantaranya datang dari lingkungan. Hal tersebut karena sedikit banyak lingkungan berpengaruh terhadap proses yang dilakukan oleh pendidikan.
Menurut ki hajar dewantara ada tiga lingkungan yang berpengaruh terhadap proses pendidikan yaitu: lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan  masyarakat. Pengaruh yang diberikan lingkungan-llingkungan tersebut  kepada proses penyeleggaraan pendidikan ada yang bersifat positif namun juga ada yang bersifat positif, semua itu tergantung dari berbagai macam perilaku masyarakat terhadap pendidikan.
Perilaku masyarakat sebagai salah satu lingkungan, terhadap proses penyelenggaraaan pendidikan, dapat dibagi menjadi beberapa perilaku, diantaranya adalah: Pertama,tipe masyarakat yang merobohkan pendidikan dengan sikapya. Maksudnya adalah masyarakat menyikapi pendidikan dengan cara yang kurang tepat, dan bahkan terkadang menolak pendidikan dengan keras. penolakan biasanya terjadi manakala masyarakat tidak merasa butuh terhadap pendidikan, yang bisa disebabkan oleh adat dan kepercayaan dari masyarakat setempat. Hal ini tentu dapat menghambat penyelenggaraan pendidkan.
Kedua adalah perilaku masyarakat yang selalu menyalahklan pendidikan. Perilaku ini ditandai dengan masyarakat yang menyerahkan segala urusan didik mendidik anak kepada lembaga pendidikan. Akibatnya adalah jika ada kesalahan perilaku anak di dalam masyarakat, selalu sekolah yang disalahkan. Misalnya ada anak sekolah yang berlaku tidak sopan di lingkungan masyarakat, apalagi anak itu masih memakai seragam, maka dalam benak masyarakat yang pertama kali muncul adalah “anak sekolah mana itu, kok perilakunya seperti itu?”. Padahal jika ditinjau lagi anak-anak berada di sekolah kurang dari 8 jam, sedangkan sisanya ada di lingkungan masyarakat. Selain itu di sekolah anak-anak disibukan oleh berbagai macam aktivitas pelajaran, sehingga porsi untuk  pembentukan karakternya sangat kurang, yang seharusnya dibentuk di lingkungan masyarakat.
Ketiga adalah perilaku masyarakat yang acuh tak acuh terhadap pendidikan. Perilaku ini dapat muncul dikalangan masyarakat manakala masyarkat belum merasakan langsung terhadap hasil pendidikan. Masyarakat menilai sama antara orang yang mengenyam pendidikan dengan orang yang tidak mengenyam pedidikan. Kesamaan ini biasanya dilihat dari penghasilan yang diperoleh oleh kedua orang dengan karakteristik itu. Padahal kita tahu rate of return dari pendidikan tidak secara instan dapat kembali, namun melewati beberapa tahapan yang mugkin akan memakan waktu yang lama, dan sesuai dengan kemampuan personilnya untuk melakukan itu.
Perilaku yang terakhira adalah perilaku masyarakat yang senantiasa memberikan kesempatan dan penididikan yang salah kepada siswa. Hal ini ditujukan ketika siswa mengalami kesulitan yang disebabkan oleh kesalahanya sendiri. Misal saat ada siswa yang terlambat masuk sekolah dan menyelamatkan diri dari razia dengan masuk ke kantin atau warung, masyarakat tidak menolak, malah menerima dengan senang hati dan terkesan melindungi. Perilaku masyarakat yang demikian ini dapat dikatakan sama sekali tidak kooperatif dengan proses pendidikan sekaligus pembentukan karakter di lingkungan sekolah.
Perilaku-perilaku yang telah disebutkan di atas, merupakan perilaku yang berdampak negatif terhadap perkembangan siswa baik sebagai warga sekolah maupun warga masyarakat. Proses pendidikan tidak serta merta akan berhasil jika perilaku masyarakat tergambar dari perilaku di atas. Namun demikian tidak semua perilaku masyarakat terhadap pendidikan berdampak negatif, ada juga perilaku masyarakat yang berdampak positif dan mendukung pembentukan karakter di dunia pendidikan. Pertama, perilaku masyarakat yang menyediakan tempat belajar bagi siswa seperti  rumah belajar dan tempat les. Dengan adanya dua tempat itu maka siswa-siswa yang merasa kesulitan dalam pelajaran akan terbantu, sehingga belajar lebih mudah dan menyenangkan. Kedua, perilaku masyarakat yang senantiasa menasihati siswa-siswa yang ada di lingkungan masyarakat yang berbuat kesalahan.  Dengan adanya perilaku masyarakat yang demikian maka secara langsung masyarakat juga menyelenggarakan pendidikan, yang disebut dengan pendidikan informal. Hal ini tentu dapat membantu pembenrtukan karakter baik dalam diri siswa.
Perilaku ketiga adalah partisipasi masyarakata dalam komite sekolah. Dalam lingkup ini masyarakat terlibat secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari perecanaan hingga pengawasan. Keterlibatan masyarakat dalam komite dapat menjadi sarana pendorong sekaligus pendukung kemajuan mutu pendidikan. Pasalnya dengan keterlibatan masyarakat maka perencanaan pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan sekaligus penyelenggaraanya pun dapat diawasi secara aktif oleh masyarakat. Keempat perilaku masyarakat yang aktif memajukan pendidikan, perilaku ini biasanya dalam bentuk kerja sosial yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat, biasanya mahasiswa dalam rangka membantu masyarakat umum untuk belajar. Kerja sosial yang dilakukan biasaya dalam bentukpemberian bantuan belajar kepada siswa-siswa di suatu wilayah, pembelajaran ketrampilan terrtentu seperti halnya membuat prakarya, dan lainsebagainya.

Dari berabagi uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kontribusi masyarakat sebagai llingkungan dalam penyelenggaraan pendidikan dapat dilihat dari perilakunya terhadap pendidikan. Disamping itu perilaku masyarakat terhadap pendidikan juga tergantung pada tinggi rendahnya pendidikan yang diperoleh masyarakat.  Semakin tinggi pendidikan yang diperoleh masyarakat, maka semkin tinggi kesadaran akan perannya dalam  menyukseskan penyelenggaraan pendidikan, dan sebaliknya.  Walaupun demikian sebenarnya semua elmen yang ada di lingkungan masyarakat dapat berperan serta dalam kesuksesan penyelenggaraan pendidikan, karena pada dasarnya dalam proses pendidikan tidak hanya memuat aspek transfer ilmu saja, namun juga memuat transfer of value dalam kehidupan bermasyarakat. Dimana nilai-nilai yang berkembang di masyarakat adalah kunci utama dalam pembentukan karakter siswa sebagai anggota masyarakat, yang nantinya juga akan kembali ke masyarakat.

KULI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Pendidikan, sampai saat ini menjadi hal yang paling ugent, ia juga dipandang sebagai investasi peradaban di masa depan. Hal tesebut menjadikan pendidikan sebagai hal yang harus sangat serius untuk dikelola. Orang memandang urgent pendidikan karena dengan pendidikanlah mereka hidup, dengan pendidikan mereka  maju, dengan pendidikan mereka ada, dan dengan pendidikan juga mereka bisa menunjukan dan meningktakan status sosial  dimata masyarakat. Namun nampaknya anggapan penting dalam bidang pendidikan hanya sebatas “penting-pentingan”.  Hal tersebut karena pada kenyataannya rasa penting terhadap pendidikan tidak diwujudkan dengan baik.
Pendidikan yang baik memerlukan sebuah proses yang baik pula. Proses yang baik dapat terukur dan tertata secara sistematis dan terpadu. Terukur dan terarahnya proses pendidikan dapat dilihat dari berbagai macam sisi,diantarannya adalah sisi pelaksanaan proses pendidikan dan sisi pengelola pendidikan itu sendiri.
Sebuah proses pendidikan  penting karena dalam pendidikan terjadi berbagai macam proses transformasi. Transformasi yang paling menonjol dalam proses pendidikan adalah transformasi pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Ketiga hal tersebut sejatinnya merupakan inti dari adannya pendidikan. Hal tersebut pula yang harus dikembangkan melalui proses pendidikan. Agar kedepanya mereka yang mengenyam pendidikan bisa menjalani kehidupan dengan baik.
Sedangkan untuk pengelola pendidikan haruslah dari kalangan yag membang berkompeten dalam pengelolaan berbagai bidang pendidikan. Hal tersebut karena dengan kompetensi yang memadai maka mereka dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Dapat kita bayangkan trentunya, jika pengelolaan pendidikan dilakukan oleh orang yang tidak kompeten. Hasil pendidikan pun tak akan berkompeten. Dengan demikian,dengan adanya tenaga yang kompeten dalam bidang pengelolaan pendidikan, maka pengelolaan pendidikan dapat menjadi mudah dalam menginteraksi dan melaksanakan proses pendidikan.
 Tetapi nampaknnya pendidikan di negara kita ini belum berproses secara baik, rapi dan teratur seperti yang kita harapkan. Hal itu  terjadi karena belum ada pendudukan orang yang tepat dalam usaha pengelolaan pendidikan yang ada. Sehingga ya seperti saat ini keadaan pendidikan kita. Di satu sisi ada sekolah yang bergelimapangan fasilitas, disisi lain ada sekolah yang “miskin” fasilitas. Kalau seperti ini lalu siapa yang salah? Apakah pemerintah? Mengapa bisa salah? Hal tersebut tentunya terngingang dalam pikiran kita, saat kita mengetahui kondisi pendidikan yang ada di negeri kita tercinta ini.
Selama ini Pengarturan dan pengelolaan pendidikan di indonesia kebanyakan dan hampir kesemuannya dilakukan oleh orang –orang yang fungsi awalnnya adalah menjadi seorang tenaga pendidik, bukan orang yang memang berkompetensi sebagai pengelola pendidikan. Dimana dalam pendidikan formal sering disebut dengan istilah guru. Jika dilihat dari lartar belakang pendidikannya yang selama ini mereka jalani, mereka belajar untuk menjadi seorang pendidik dan  pembentuk siswa atau mahasiswa yang baik. Hal tersebut tentunya menjadi sangat rancu jika tiba- tiba mereka dijadikan sebagai seorang manajer dalam pendidikan. Mereka tidak memilii ketrampilan dalam hal itu, sehingga dalam pelaksanaan tugas pun akan tidak sebaik dengan orang yang memang dipersiapkan menjadi seorang meajer di dunia pendidikan.
Terlebih selama ini tugas seorang pedidik adalah mendidik, mereka dibebani oleh tugas dalam merencanakan pembelajaran di kelas hingga evaluasi di dalam kelas, dengan demikian, secara tidak langsung tugas mereka sangatlah bannyak. Masih lagi mereka harus menyusun rencana pembelajaran untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan  tugas pokok dan fungsi sebagai seorang pendidik. Tentunnya hal tersebut membuat confuse pendidik bukan? Penambahan tugas yang banyak, dengan gaji yang tidak jauh berbeda dengan gaji guru, tentunnya juga berdampoak pada sisi psikologi, dalam pelaksanaan tugasnnya.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis terhadap beberapa sekolah dan perguruan tinggi, penulis menemukan beberapa permasalahan dalam pengelolaan sekolah. Pertama adalah kebanyaan pihak yang menjabat sebagai kepala sekolah di tanah air, berlatar belakang seorang guru. Kedua, pengelola perpustakaan tidak semua ari kalangan tenaga perpustakaan atau ustakawan. Namun dari mereka ada yang berlatar belakang dari seorang tenaga TU dari sekolah dan guru dari sekolah yang bersangkutan. Ketiga seorang rektor latar belakangnnya adalah seorang dosen. Tiga hal tersebut,tentunya bukan menjadi hal yag sepele, namun jugan menjadi halyang perlu diperhatikan. Hal tersebut karena berhubungan langsung dengan proses pendidikan yang ada.
Jika mengacu pada peraturan yang berlaku, seorang guru ataupun dosen tidak dapat meninggalkan tugas dan fungsinnya secara sengaja tanpa disertai alasan yang tepat, toh sekarang ada peraturan  yang mengatur tentang guru dan dosen. Jika seorang guru yang diberi tambahan tugas menjadi kepala sekolah maka yang terjadi adalah kelas atau siswa yang seharusnya beliau ajar, menjadi sering tidak diajar. Hal tersebut bukan karena apa , hanya karena tugasnya sebagai kepala sekolah. Padahal kita ketahui bersama, bahwa tujuan seseorang menjadi guru adalah  untuk mendidik dan mengajar peseta didik yang ada di sekolah. Lalu bagaimana jika tugas dan taunggung jawabnya tersebut tidak dilaksanakan? Apakah mereka tidak menjadi sorang guru lagi?
Belum lagi dalam dunia pendidikan, semua pelaksanaan tugas sangat bersifat birokratif, dimana keterarturan dalam pelaksanaan tugas seakan menjadi hal yang sakral. Guru harus membuat rencana pembelajarn, demikian juga dengan dosen yang harus membuat rencana pembelajaran, yang berupa silabi. Setiap guru dan dosen  tentunnya tidak hanya diserahi tugas untuk satu kelas saja. Karena mereka harus memenuhi tuntutan jam yang diberikan kepda mereka. sementara jika mereka ditambah tugas menjadi pengelola sistem sekaligus satuan pendidikan, tentunnya tugas mereka sebagai seorang guru akan tercecer.
Ditambah saat ini yang duduk dalam lembaga kependidikan seperti dinas pendidikan, dan kementrian pendidikan bukan berasal dari orang–oang yang memang punya kompetensi dalam pengaturan dan pengelolaan bidang pendikdikan. Kalaupun ada  tentunnya hanya beberapa saja. Kebanyakan dari mereka bulkan berasal dari sarjana manajemen pendidikan, sehingga benarlah jika selama ini pengraturan sistem pendidikan selalu berubah – ubah, terutama dalam hal kurikulum pendidikan.
Sudah saatnya pengaturan dan pengelolaan pendidikan di indonesia dilakukan oleh orang yang memiliki kualifikasi sebagai pengatur dan ketrampilan manajerial dalam dunia pendidikan. Kepemilikan akan kualifikasi dan ketrampilan tersebut tentunya didapat dari pendidikan yang dilakukan olehcalon pengelola. Sehingga pengelolaan proses pendidikan dapat berjalan dengan baik dan tidak terjadi carut marut dalam pelaksanaan tugas.
Banyak dampak yang terjadi akibat adannya ketidaksesuaian tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan pendidikan. Dengan adannya dosen atau guru yang menjabat tugas menjadi kepala sekolah atau rektor,tentunnya beban meraka sangatlah berat. Mereka seakan memiliki dua  jiwa dalam  satu raga, dima jiwa yang satu menjadi pengatur dan penentu jiwa yang lainnya. Beratnya tugas yang mereka terima, membuat mereka seakan kurang sempat untuk berkeasi dan berinovasi. Kebanyakan dari mereka jika ada sekolah atau uiversitas yang maju atau lebih baik, yang meraka lakukan adalah kegiatan study banding.
Dalam kegiatan studuy banding yang mereka lakukan tentunya mendapatkan hasil tentang bagaimana sekolah yang didatangi untuk study banding tersebut bisa berhasil. Dalam pelaksanaan tentunya mereka mencontoh sekolah atau universitas yang  berhasil tersebut. Jika hal ini terjadi bukankah hal ini membuktikan kerendahan kreatifitas dan inovasi dari orang yang study banding? sehingga mereka membutuhkan contoh untuk melaksanakan tugas dan fungsi dengan baik.
Parahnya lagi banyak sekolah yang melakukan study banding, kemudian melakukan adopsi kegiatan yang ada di sekolah yang didatangi, yang selanjutnya mengaplikasikan dalam lembaga pendidikan yang mereka kelola. Pengaplikasian, terkadang tidak mengibah sama sekali dari apa yang sekolah lain lakukan. Kalupun ada, tentunya hanya sedikit saja. Hal tersebut tentunya membunuh daya reatif dalam persaingan memajukan lembaga pendidikan yang mereka kelola.
Kegiatan meniru, mencontoh dalam studi banding juga berpengaruh terhadap karakter dari siswa atau mahasiswa. Pengaruh secara langsung adalah pengaruh terhadap  karakter siswa dan mahasiswa yang biasannya tewujud dalam perilaku mencontek. Padahal nantinnya yang akan memegang tongkat estafet kemajuan bangsa adalah siswa dan mahasiswa yang sekarang ini sedang belajar. Jika sejak dini mereka tahu apa yang dilakukan oleh pengelola dalam pendidikan untuk memajukan pendidikan di lembagannya adalah dengan studi banding, maka kedepannya  jika mereka duduk sebagai pengelola negara, maka yang mereka lakukan adalah studi banding juga.Kalau hannya meniru dan mencontoh kreativitas dan inovasi dari orang lain, lalu buat apa mereka sekolah tinggi . itulah dampak dari penempatan orang yang tidak tepat atau bisa juga disebutsebagai kuli di bidang pendidikan.
Oleh karena itu, perlu adannya penempatan orang–orang khusus yang memang ditugaskan menjadi pengelola satuan dan sistem pendidikan. Orang-orang tersebut haruslah orang yang berkompeten dalam bidang pengelolaan  pendidikan.  Bukan hannya orang yang mau ditempatkan saja, namun juga orang yang terakreditasi. Sehingga dengan ditempatkannya orang–orang yang tepat, maka diharpkan sistem pendidikan dan pengelolaan di bidang pendidikan akan menjadi semakin baik, dan kedepannya pendidikan yang berjalan di indonesia tidak lagi diklola oleh orang–orang yang tidak tepat atau kuli dalam bidang pendidikan

Sudah saatnya pendidikan di indonesia melakukan pemisahan bagian antara orang yang bertugas menjadi pendidik dengan orang yang mengelola dan mengatur sistem pendidikan. Dengan kata lain profesionalisasi jabatan dalam pengelolaan pendidikan harus ditingkatkan, dengan demikian  maka akan tercipta kejelasan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab. Selain itu masing- masing akan menjadi lebih fokus terhadap tugasnnya. Ketika seorang sudah fokus, maka mereka akan memunculkan daya kreatif dan inovatif dalam pelaksanaan tugasnya. Tidak perlu lagi ada kegiatan study banding. Setiap sekolah yang memiliki pengelola khusus, akanmampu melaksanakan fungsinya dengan baik. Siswa dan mahasiswa un tidak perlu lagi tahu akan adanya kegiatan study banding, yang merupakan kegiatan pencontohan kemajuan sekolah lain. Dan kedepanya tidak ada lagi siswa yang mencontek. Sehingga tujuan pendidikan yang menjadikan siswa trampil dan berkepribadian akan dapat dicapai dengan baik.

Manajemen Pemuda Peduli Lingkungan Sebagai Solusi Pencemaran Lingkungan

Abstrak: Makhluk hidup tidak pernah terlepas dari lingkungan, namun sebaliknya jika lingkungan tercemar maka kehidupan makhluk hidup pun akan terganggu. Selain dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, pencemaran juga dapat menyebabkan timbulnya banyak penyakit. Pencemaran dapat berupa pencemaran tanah, air, udara, dan suara. Menurut data pada Kompas.com (16 April 2012) menyebutkan bahwa indeks kualitas air sungai menunjukan kecenderungan peningkatan pencemaran hingga 30%. Namun demikian menurut data Menteri Negara Lingkungan hidup indeks kualitas lingkungan Indonesia pada tahun 2009 menunjukkan poin 59,79 dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan pada poin 61,27.  peningkatan tersebut menunjukan bahwa bangsa indonesia mulai peduli dengan lingkungan. Tingkat pencemaran dapat dikatakan sudah mereda apabila 1) jumlah limbah yang ada di sekitar lingkungan sudah banyak berkurang, 2) berkurangnya keberadaan sampah, 3) lingkungan bersih dan nyaman untuk ditinggali dan, 4) kesehatan masyarakat terjamin. Manajemen pemuda peduli lingkungan dapat menjadi solusi yang dapat dilakukan dalam mewujudkan berbagai kriteria meredanya pencemaran lingkungan. Pemuda sebagai tonggak berdirinya suatu bangsa merupakan penerus bangsa yang akan melanjutkan perjuangan bangsa termasuk menjaga dan merawat lingkungan. Dengan menggunakan proses manajemen lingkungan dalam menjaga dan merawat lingkungan diharapkan peran pemuda dapat berjalan secara teratur dan fungsional. Tahap yang dapat dilakukan adalah, 1) Tahap pertama adalah perencanaan, pada tahap ini terlebih dahulu  ditentukan tujuan, dan program-program  pencapaian tujuan. Tujuan yang ditentukan dapat berupa visi untuk tetap menjaga kebersihan kampungnya. Program yang dilakukan diantaranya, pengadaan tempat sampah tiga jenis, bersih kampung secara rutin, pemanfaatan sampah, dan sosialisasi sebab akibat pencemaran pada masyarakat desa. 2) Tahap kedua adalah pengorganisasian. Pada tahap ini hal yang dilakukan adalah penunjukan tugas dan tanggung jawab dari setiap angggota tim pemuda. Selain itu, pada tahap ini juga dibentuk struktur organisasi kepengurusan anggota tim.3) Tahap ketiga adalah pengarahan. Pada tahap ini perlu dibahas bagaimana cara yang efektif dalam melaksanakan tugas dari masing- masing anggota tim. Pengarahan dapat dilakukan oleh pendamping atau ketua anggota tim sesuai dengan program dan tujuan yang telah disepakati bersama. 4) Tahap keempat adalah koordinasi. Koordinasi dilakukan secara rutin pada waktu yang telah disepakati bersama. Kegiatan ini dilakukan untuk memantau dan melakukan musyawarah perkembangan dan pengembangan program. 5) Tahap terakhir adalah evaluasi. Tahap ini dilakukan dalam rangka menilai dan mencocokan hasil pelaksanaan program dibandingkan dengan perencanaan awal. Pada tahap ini apabila terdapat hal –hal yang tidak sesuai dengan perencanaan awal, maka dapat dilakukan pembetulan.


kata kunci : pencemaran, lingkungan, manajemen